kabar nagari pasaman

Loading...

Kamis, 02 Februari 2012

satwa harapan (budidaya lebah)

TEKNIS BUDIDAYA LEBAH

Lebah termasuk hewan yang masuk dalam kelas insekta famili Apini dan genus Apis. Spesiesnya bermacam-macam, yang banyak terdapat di Indonesia adalah A. cerana, A. Dorsata A. Florea. Jenis unggul yang sering  dibudidayakan adalah jenis A. mellifera.
Menurut asal-usulnya lebah dibagi 4 jenis berdasar penyebarannya:
1) Apis cerana, diduga berasal dari daratan Asia menyebar sampai Afghanistan, Cina maupun Jepang.
2) Apis mellifera, banyak dijumpai di daratan Eropa, misalnya Prancis, Yunani dan Italia serta di daerah sekitar Mediterania.
3) Apis Dorsata, memiliki ukuran tubuh paling besar dengan daerah penyebaran sub tropis dan tropis Asia seperti Indonesia, Philipina dan sekitarnya. Penyebarannya di Indonesia merata mulai dari Sumatera sampai Irian.
4) Apis Florea merupakan spesies terkecil tersebar mulai dari Timur Tengah,
India sampai Indonesia. Di Indonesia orang menyebutnya dengan tawon
klanceng.
4. MANFAAT
Produk yang dihasilkan madu adalah:
1)        Madu sebagai produk utama berasal dari nektar bunga merupakan makan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika dan farmasi.
2)        Royal jelly dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai bahan campuran kosmetika, bahan campuran obat-obatan.
3)        Pollen (tepung sari) dimanfaatkan untuk campuran bahan obatobatan/
kepentingan farmasi.
4)        Lilin lebah (malam) dimanfaatkan untuk industri farmasi dan kosmetika
sebagai pelengkap bahan campuran.
5)        Propolis (perekat lebah) untuk penyembuhan luka, penyakit kulit dan
membunuh virus influensa.
Keuntungan lain dari beternak lebah madu adalah membantu dalam proses
penyerbukan bunga tanaman sehingga didapat hasil yang lebih maksimal.
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Dalam pembudidayaan lebah madu yang perlu dipersiapkan yaitu:
Lokasi budidaya, kandang lebah modern (stup), pakaian kerja dan peralatan Syarat yang utama yang harus yang dipenuhi dalam budidaya lebah adalah ada seekor ratu lebah dan ribuan ekor lebah pekerja serta lebah jantan. Dalam satu koloni tidak boleh lebih dari satu ratu karena antar ratu akan saling bunuh untuk memimpin koloni.
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1)      Perkandangan
a. Suhu
Perubahan suhu dalam stup hendaknya tidak terlalu cepat, oleh karena itu ketebalan dinding perlu diperhatikan untuk menjaga agar suhu dalam stup tetap stabil. Yang umum digunakan adalah kayu empuk setebal 2,5 cm.
b. Ketahanan terhadap iklim
Bahan yang dipakai harus tahan terhadap pengaruh hujan, panas, cuaca yang selalu berubah, kokoh dan tidak mudah hancur atau rusak.
c. Konstruksi
Konstruksi kandang tradisional dengan menggunakan gelodok dari bambu, secara modern menggunakan stup kotak yang lengkap dengan framenya.
2) Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam budidaya lebah terdiri dari: masker, pakaian kerja dan sarung tangan, pengasap, penyekat ratu, sangkar ratu, sapu dan sikat, tempat makan, pondamen sarang, alat-alat kecil, peralatan berternak ratu dan lain-lain.
Pembibitan
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Bibit lebah unggul yang di Indonesia ada dua jenis yaitu A. cerana (lokal) dan A. mellifera (impor). Ratu lebah merupakan inti dari pembentukan koloni lebah, oleh karena itu pemilihan jenis unggul ini bertujuan agar dalam satu koloni lebah dapat produksi maksimal. ratu A. cerana mampu bertelur 500-900 butir per hari dan ratu A. mellifera mampu bertelur 1500 butir per hari. Untuk mendapatkan bibit unggul ini sekarang tersedia tiga paket pembelian bibit lebah:
  1. paket lebah ratu terdiri dari 1 ratu dengan 5 lebah pekerja.
  2. paket lebah terdiri dari 1 ratu dengan 10.000 lebah pekerja.
  3. paket keluarga inti terdiri dari 1 ratu dan 10.000 lebah pekerja lengkap
    dengan 3 sisiran sarang.
2)      Perawatan Bibit dan Calon Induk
Lebah yang baru dibeli dirawat khusus. Satu hari setelah dibeli, ratu
dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam stup yang telah disiapkan. Selama 6
hari lebah-lebah tersebut tidak dapat diganggu karena masih pada masa
adaptasi sehingga lebih peka terhadap lingkungan yang tidak
menguntungkan. Setelah itu baru dapat dilaksanakan untuk perawatan dan
pemeliharaan rutin.
3)      Sistem Pemuliabiakan
Pemuliabiakan pada lebah adalah menciptakan ratu baru sebagai upaya pengembangan koloni. Cara yang sudah umum dilaksanakan adalah dengan pembuatan mangkokan buatan untuk calon ratu yang diletakkan dalam sisiran. Tetapi sekarang ini sudah dikembangkan inseminasi buatan pada ratu lebah untuk mendapatkan calon ratu dan lebah pekerja unggul. Pemuliabiakan lebah ini telah berhasil dikembangkan oleh KUD Batu Kabupaten Malang.
4)      Reproduksi dan Perkawinan
Dalam setiap koloni terdapat tiga jenis lebah masing-masing lebah ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Alat reproduksi lebah pekerja berupa kelamin betina yang tidak berkembang sehingga tidak berfungsi, sedangkan alat reproduksi berkembang lebah ratu sempurna dan berfungsi untuk reproduksi. Proses Perkawinan terjadi diawali musim bunga. Ratu lebah terbang keluar sarang diikuti oleh semua pejantan yang akan mengawininya. Perkawinan terjadi di udara, setelah perkawinan pejantan akan mati dan sperma akan disimpan dalam spermatheca (kantung sperma) yang terdapat pada ratu lebah kemudian ratu kembali ke sarang. Selama perkawinan lebah pekerja
menyiapkan sarang untuk ratu bertelur.
5)      Proses Penetasan
Setelah kawin, lebah ratu akan mengelilingi sarang untuk mencari sel-sel yang masih kosong dalam sisiran. Sebutir telur diletakkan di dasar sel. Tabung sel yang telah yang berisi telur akan diisi madu dan tepung sari oleh lebah pekerja dan setelah penuh akan ditutup lapisan tipis yang nantinya dapat ditembus oleh penghuni dewasa. Untuk mengeluarkan sebutir telur diperlukan waktu sekitar 0,5 menit, setelah mengeluarkan 30 butir telur, ratu akan istirahat 6 detik untuk makan. Jenis tabung sel dalam sisiran adalah:
a. Sel calon ratu, berukuran paling besar, tak teratur dan biasanya terletak di pinggir sarang.
b. Sel calon pejantan, ditandai dengan tutup menonjol dan terdapat titik hitam di tengahnya.
c. Sel calon pekerja, berukuran kecil, tutup rata dan paling banyak jumlahnya.
Lebah madu merupakan serangga dengan 4 tingkatan kehidupan yaitu telur, larva, pupa dan serangga dewasa. Lama dalam setiap tingkatan punya perbedaan waktu yang bervariasi. Rata-rata waktu perkembangan lebah:
a. Lebah ratu: menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 1 hari, istirahat 2 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 3 hari, total waktu jadi lebah 15 hari.
b. Lebah pekerja: menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 2 hari, iatirahat 3 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 7 hari, total waktu jadi lebah 21 hari.
c. Lebah pejantan: menetas 3 hari, larva 6 hari, terbentuk benang penutup 3 hari, iatirahat 4 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 7 hari, total waktu jadi lebah 24 hari. Selama dalam periode larva, larva-larva dalam tabung akan makan madu dan tepung sari sebanyak-banyaknya. Periode ini disebut masa aktif, kemudian larva menjadi kepompong (pupa). Pada masa kepompong lebah tidak makan dan minum, di masa ini terjadi perubahan dalam tubuh pupa untuk menjadi lebah sempurna. Setelah sempurna lebah akan keluar sel menjadi lebah muda sesuai asal selnya.
Pemeliharaan
1) Sanitasi, Tindakan Preventif dan Perawatan
Pada pengelolaan lebah secara modern lebah ditempatkan pada kandang berupa kotak yang biasa disebut stup. Di dalam stup terdapat ruang untuk beberapa frame atau sisiran. Dengan sistem ini peternak dapat harus rajin memeriksa, menjaga dan membersihkan bagian-bagian stup seperti membersihkan dasar stup dari kotoran yang ada, mencegah semut/serangga masuk dengan memberi tatakan air di kaki stup dan mencegah masuknya binatang pengganggu.
2) Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan ini meliputi menyingkirkan lebah dan sisiran sarang abnormal
serta menjaga kebersihan stup.
3) Pemberian Pakan
Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat
di mana banyak bunga. Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada
Dalam penggembalaan yang perlu diperhatikan adalah :
a. Perpindahan lokasi dilakukan malam hari saat lebah tidak aktif.
b. Bila jarak jauh perlu makanan tambahan (buatan).
c. Jarak antar lokasi penggembalaan minimum 3 km.
d. Luas areal, jenis tanaman yang berbunga dan waktu musim bunga.
Tujuan utama dari penggembalaan ini adalah untuk menjaga kesinambungan produksi agar tidak menurun secara drastis. Pemberian pakan tambahan di luar pakan pokok bertujuan untuk mengatasi kekurangan pakan akibat musim paceklik/saat melakukan pemindahan stup saat penggeembalaan. Pakan tambahan tidak dapat meningkatkan produksi, tetapi hanya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan lebah. Pakan tambahan dapat dibuat dari bahan gula dan air dengan perbandingan 1:1 dan adonan tepung dari campuran bahan ragi, tepung kedelai dan susu kering dengan perbandingan 1:3:1 ditambah madu secukupnya.

Pembahasan tentang: cara budidaya lebah madu, cara beternak lebah madu, cara ternak lebah, cara budidaya lebah, cara budidaya madu, kandang lebah madu, teknik budidaya lebah madu, cara berternak bebek, cara panen madu, cara beternak madu, kandang lebah, cara budi daya lebah madu, cara berternak lebah madu, cara membudidayakan lebah madu, cara ternak tawon madu, ternak madu, cara membuat kotak lebah madu, cara membudidayakan madu, ternak tawon madu, cara membuat ratu lebah, TAWON MADU, CARA PEMBIAKAN LEBAH, stup lebah madu, cara ternak madu lebah, cara membuat kandang lebah, lebah /cara membuat sarang/ stup, cara membuat kandang lebah madu, cara buat kandang puyuh, CARA BUDIDAYA MADU LEBAH, cara berternak madu, budidaya lebah madu, cara memanen madu, budidaya lebah, cara panen lebah

satwa harapan (kelinci)

TEKNIS BUDIDAYA KELINCI YANG BAIK

Yang perlu diperhatikan dalam usaha ternak kelinci adalah persiapan lokasi yang sesuai, pembuatan kandang, penyediaan bibit dan penyediaan pakan.
 
1. Penyiapan Sarana dan Perlengkapan
Fungsi kandang sebagai tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21° C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi ternak dari predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih. Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm.

Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:
1.Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda.
2. Kandang sistem ranch ; dilengkapi dengan halaman pengumbaran.
3. Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid).
Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.

2. Pembibitan
Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara.

1. Pemilihan bibit dan calon induk
Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak.

2. Perawatan Bibit dan calon induk
Perawatan bibit menentukan kualitas induk yang baik pula, oleh karena itu perawatan utama yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari gangguan luar.

3. Sistem Pemuliabiakan
Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:
1. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.
2. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul.
3. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.
4. Reproduksi dan Perkawinan
Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore
hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan.
5. Proses Kelahiran
Setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci yang sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.

3. Pemeliharaan
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Tempat pemeliharaan diusahakan selalu kering agar tidak jadi sarang penyakit. Tempat yang lembab dan basah menyebabkan kelinci mudah pilek dan terserang penyakit kulit.

2. Pengontrolan Penyakit
Kelinci yang terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan turun, suhu badan naik dan mata sayu. Bila kelinci menunjukkan hal ini segera dikarantinakan dan benda pencemar juga segera disingkirkan untuk mencegah wabah penyakit.

3. Perawatan Ternak
Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan ditempatkan kandang tersendiri dengan isi 2-3 ekor/kandang dan disediakan pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian dapat dilakukan saat menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dengan membuang testisnya.

4. Pemberian Pakan
Jenis pakan yang diberikan meliputi hijauan meliputi rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan ini perlu pakan tambahn berupa konsentrat yang dapat dibeli di toko pakan ternak. Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit/secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.

5. Pemeliharaan Kandang
Lantai/alas kandang, tempat pakan dan minum, sisa pakan dan kotoran kelinci setiap hari harus dibersihkan untuk menghindari timbulnya penyakit. Sinar matahari pagi harus masuk ke kandang untuk membunuh bibit penyakit. Dinding kandang dicat dengan kapur/ter. Kandang bekas kelinci sakit
dibersihkan dengan kreolin/lysol.

HAMA DAN PENYAKIT
1. Bisul
Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit.
Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.

2. Kudis
Penyebab: Darcoptes scabiei. Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh.
Pengendalian: dengan antibiotik salep.

3. Eksim
Penyebab: kotoran yang menempel di kulit.
Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl.
4. Penyakit telinga
Penyebab: kutu.
Pengendalian: meneteskan minyak nabati.

5. Penyakit kulit kepala
Penyebab: jamur.
Gejala: timbul semacam sisik pada kepala.
Pengendalian: dengan bubuk belerang.

6. Penyakit mata
Penyebab: bakteri dan debu.
Gejala: mata basah dan berair terus.
Pengendalian: dengan salep mata.

7. Mastitis
Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar.
Gejala: puting mengeras dan panas bila dipegang.
Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak.

8. Pilek
Penyebab: virus.
Gejala: hidung berair terus.
Pengendalian: penyemprotan antiseptik pada hidung.

9. Radang paru-paru
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.
Gejala: napas sesak, mata dan telinga kebiruan.
Pengendalian: diberi minum Sul-Q-nox.

10. Berak darah
Penyebab: protozoa Eimeira.
Gejala: nafsu makan hilang, tubuh kurus, perut membesar dan mencret darah.
Pengendalian: diberi minum sulfaquinxalin dosis 12 ml dalam 1 liter air.
11. Hama pada kelinci umumnya merupakan predator dari kelinci seperti anjing. Pada umumnya pencegahan dan pengendalianhama dan penyakit dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan yang sesuai dan memenuhi gizi dan penyingkiran sesegera mungkin ternak yang saki PANEN
1. Kembung :
  • Nama obat : Sulfaquinoxalin, Gastop
  • Penanganan : Kurangi pakan basah, perbanyak hay/pelet, kurangi minum, simpan kelinci ditempat tertutup dan diberi lampu 5 watt
.2. Mencret :
  • Nama obat : Diapet dalam dosis kecil
  • Penanganan : Biasanya mencret dimulai dari sakit kembung, kurangi makanan basah, perbanyak hay/pelet, simpan ditempat tertutup dan diberi lampu 5 watt. Bedanya mencret dgn kembung, biasanya kelinci kekurangan cairan dan vitamin saat terkena mencret. Kelinci yg mencret boleh dikasih minum tapi dalam jumlah yg sedikit agar tidak memperparah kembungnya. Boleh jg diberi vitamin B12. Selain itu biasanya kelinci yg mencret/kembung enggan untuk makan, sehingga ada baiknya dicekokin susu.
.
3. Scabies :
  • Penanganan : Scabies adalah penyakit yg menular, biasanya trdapat disekitar mulut, kaki, telinga, hidung dan daerah lainya yg terdapat lipatan-lipatan. Scabies adalah penyakit yg menular, sehingga begitu ada yg terserang langsung dikarantina agar tidak menyebar, selain itu hati2 dalam menanggulanginya, karena scabies jg menular pada manusia. Cukur bulu disekitar bagian yg terkena scabies, cuci dengan air hangat, olesi dengan obat kudis seperti salep belerang, caviam, scabicid cream atau bedak yg dicampur minyak tanah. Ada jg obat yg bisa diinjeksikan(suntik kulit-daging) pada tubuh kelinci
.
4. Sembelit :
  • Nama obat : -
  • Penanganan : Beri serat lebih banyak pada pakan kelinci

PANEN
1. Hasil Utama
Hasil utama kelinci adalah daging dan bulu
2. Hasil Tambahan
Hasil tambahan berupa kotoran untuk pupuk
3. Penangkapan
Kemudian yang perlu diperhatikan cara memegang kelinci hendaknya yang benar agar kelinci tidak kesakitan.

PASCAPANEN

1. Stoving
Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .
2. Pemotongan
Pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain.
3. Pengulitan
Dilaksanakan mulai dari kaki belakang ke arah kepala dengan posisi kelinci digantung.
4. Pengeluaran Jeroan
Kulit perut disayat dari pusar ke ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan paru-paru dikeluarkan. Yang perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah karena dapat mempengaruhi kualitas karkas.
5. Pemotongan Karkas
Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2 potong bagian dada dan 2 potong bagian belakang. Presentase karkas yang baik 49-52%.

satwa harapan (burung walet)

Pemilihan Lokasi Walet yang Ideal

Keberhasilan dalam budidaya walet salah satu faktor utamanya adalah lokasi yang ideal. Lokasi yang populasi waletnya sedikit bahkan mungkin tidak ada sama sekali tentu tidak tepat untuk didirikan rumah walet.

Akibat pemilihan lokasi yang sembarangan dan tidak tepat banyak gedung yang telah dibangun setelah bertahun-tahun masih kosong melompong.

Untuk Pemilihan lokasi dapat menggunakan Suara jenis TEST LOKASI. Dapatkan suara test lokasi dimember area. Pengetesan lokasi dapat dilakukan pada waktu sore hari takala burung walet mulai kembali ke sarangnya.

Untuk keperluan ini gunakan satu ataupun dua tweeter yang diikatkan diujung pipa ataupun bambu.
Kemampuan burung walet dalam menjelajah ke lokasi pakan relatif jauh bahkan berjarak puluhan kilometer.
Bukti bahwa walet tersebar di berbagai lokasi adalah ditemukanya koloni walet yang berterbangan pada pagi ataupun sore hari di berbagai tempat.

Koloni burung walet pada sore hari kembali ke tempat sarangnya baik ke rumah walet maupun kembali ke gua-gua.
Lokasi yang bagus untuk mendirikan rumah walet adalah:

1. Lokasi sentra walet (lokasi yang banyak rumah waletnya)
2. Lokasi lintasan walet (lintasan koloni walet menuju lokasi pakan)
3. Lokasi sumber pakan walet (bisa hutan ataupun persawahan yang subur).

Umumnya orang akan memilih lokasi yang memiliki peluang paling besar, yaitu sentra walet agar rumah walet yang dibangun segera dihuni burung walet.
Selain sentra walet lokasi yang banyak diminati adalah lokasi pakan, alasan pemilihan lokasi ini adalah jumlah populasi walet yang justru lebih banyak daripada sentra walet.

Hal ini dikarenakan lokasi sumber pakan didatangi oleh koloni walet dari berbagai sentra walet ataupun koloni walet yang mendiami gua. Lokasi yang terahir yang masih diminati adalah lokasi lintasan koloni walet menuju sumber pakan. Umumnya lokasi yang dipilih berjarak berjarak sekitar 1 km dari lokasi sentra walet.

Dilihat dari hal tersebut diatas patut dipertimbangkan sebelum membangun rumah walet agar kerugian yang besar bisa dihindari.

Habitat Hidup Burung Walet

Setiap mahluk hidup pada dasarnya memilih tempat berkembangbiak yang aman dan nyaman. Begitu pula burung walet, Sehingga walet memilih tempat yang memenuhi syarat dan sesuai dengan habitat aslinya.

Sehingga walet memilih gua-gua alam dan bangunan tertentu sebagai tempat pengembangan populasinya. Semakin aman dan nyaman tempatnya maka semakin bertambah pula jumlah populasinya.

Tempat yang sesuai dengan habitat walet adalah bersuhu 26-30 C, berkelembaban udara 80-90% dan dekat dengan tempat ia mencari makan.

Bukan hanya itu saja tetapi harus aman dari gangguan, binatang predator, terlindung dari terpaan angin, terik matahari, hujan dan cahaya yang terang.
Cahaya dalam rumah walet tidak boleh melebihi 2fc (foot candle) setara dengan cahaya 2 buah lilin.

Oleh sebab itu diperlukan suatu perlakuan khusus untuk memancing walet atau menjaga dan mengembangkan populasi walet pada bangunan yang sudah dimasuki walet.

Perlakuan khusus itu seperti: ukuran bangunan, bak tampung air, lubang ventilasi, ukuran lubang, bau-bauan, mesin kabut, pemberian serangga dari makanan yang dibusukkan, suara walet dan lainnya memang mutlak harus dilakukan.


Mengatur Suhu Rumah Walet

Seperti artikel diatas telah kita ketahui bahwa suhu didalam gedung idealnya 27 - 29°C dalam kondisi demikian sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasi dan kualitas sarang.

Suhu yang terlalu tinggi 30 - 32° C air liur walet akan cepat mengering apalagi kalau kelembaban juga rendah akibatnya sarang retak dan keropos. Telur yang dihasilkan juga kurang bagus / infertil yang berujung tidak berkembangnya populasi yang lebih parahnya rumah walet bisa ditinlgal pergi oleh burung walet. Demikian juga kalau sebaliknya.

Oleh sebab itulah penanganan suhu ruang harus diperhatikan dengan serius. Agar suhu bisa stabil dikisaran 27 - 29° C Dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

1. Membuat Ventilasi Udara
Untuk daerah panas yang bersuhu rata - rata 30 - 32°C, lubang ventilasi dapat menggunakan pipa pralon berukuran 4 inch. Kalau ketinggian kamar antara 3 - 4 meter maka pipa plaron perlu dipasang dengan jarak masing - masing 1 meter.
Pemasangan perlu dilakukan 2 deret yaitu bagian atas dengan jarak 60 Cm dari plafon atau dek sedangkan deretan pipa bagian bawah juga berjarak 60 Cm dari lantai.

pemasangan pipa harus dilengkapi degan pipa Kni yang dipasang pada bagian dalam gedung hal ini berguna untuk mengurangi intensitas cahaya dan terpaan angin kencang.

2. Mengecat Dinding / Tembok luar

Pengecatan bertujuan untuk mengurangi intensitas penyerapan panas matahari, untuk daerah panas bersuhu rata - rata 30 - 32°C sangat tidak disarankan mengecat dinding dengan warna hitam kecuali pintu masuk burung.
Karena warna hitam sangat menyerap panas. Tetapi yang disarankan justru cat yang berwarna terang. Namun warna hitam cukup membantu untuk daerah yang bersuhu dingin 24 - 25° C.

3. Mempertebal tembok / dinding

Dinding yang dicor tebal akan sangat membantu karena panas tidak terlalu cepat menyerap kedalam gedung. Batu bata merah yang disusun membujur memiliki ketebalan 25 - 30 Cm terbukti cukup menstabilkan suhu ruang.

Didaerah Kalimantan banyak peternak membangun rumah walet dengan dinding plesteran semen yang didalamnya ditambahkan Styrofoam dengan ketebalan 5 Cm.
Sehingga ketebalan dinding bisa mencapai ± 10 Cm, hal ini cukup membantu mengurangi biaya selain murah juga lebih gampang didapat.

4. Membuat hujan buatan

Hujan buatan dapat dilakukan dengan memasang sprayer yang dihubungkan dengan pipa dan dipasang diatas atap. Pada saat matahari terik sekitar jam 11 - 12 siang sprayer dapat dihidupkan, sehingga suhu ruang kembali turun.



Mengatur Kelembaban Rumah Walet

Seperti yang kita ketahui kelembaban rumah walet terbaik adalah 80 - 90 %. Kelembaban yang terlalu tinggi misalnya 95 - 105 % mengakibatkan sarang menjadi lembek dan sarang berwarna keruh.

Sedangkan kalau kelembaban terlalu rendah berkisar 30 - 50 % akan mengakibatkan sarang mudah retak dan kurang sempurna bentuknya.

Untuk mengetahui kelembaban rumah walet bisa dipergunakan alat pengukur ThermoHygrometer.

Alat ini sangat penting dan harus dimiliki peternak walet selain berfungsi sebagai pengukur kelembaban, alat ini juga bisa mengukur suhu ruang.
ThermoHygrometer dapat dibeli di toko yang menjual sarana budidaya walet atupun melalui website kami.

Untuk menjaga kelembaban agar stabil perlu dilakukan dengan membuat bak air yang permanen ataupun dengan menggunakan baskom yang keperluanya bisa disesuaikan kebutuhan, dan di tempatkan di dalam gedung walet.

Pengaturan kelembaban Rumah walet di daerah panas daerah equator yang bersuhu 30 - 33° C bak air harus agak besar atau baskom perlu banyak dan mempunyai permukaan yang luas namun ketinggian air boleh berkisar 20 Cm saja. Luas bak air berkisar 70% dari total luas kamar / bangunan. Hal ini dimaksudkan agar penguapan lebih merata.

Untuk daerah yang bersuhu 26 - 28°C bak air yang diperlukan relatif tidak besar, luas bak air cukup 25% dari total luas ruang.



Ramuan Pemikat Walet

Ramuan ini menggunakan sarang walet dan rumput laut sebagai bahan baku utama ramuan ini. Sekitar 100 g sarang dicuci bersih sebanyak 3 kali selanjutnya sarang itu direndam air selama semalam.

Selanjutnya siapkan 50 gr rumput laut yang juga direndam hingga lembut. kedua bahan kemudian dihancurkan hingga lumat dengan blender. Campuran itu ditambahkan air bersih sebanyak 5 liter.

Diamkan campuran tersebut selama kira-kira sebulan, hasil terbaik bila didapat air rendaman menjadi keruh dan berwarna kekuningan. Bau amisnya tercium lembut. Air rendaman itu kemudian disaring untuk membuang ampas sarang dan rumput laut. Yang dipakai hanya air rendaman saja.

Cairan pemikat walet itu harus segera dioleskan pada lagur/sirip, karena bila didiamkan terlalu lama dan lebih dari 2 minggu, bau amisnya berubah, tidak tercium segar. Ini dapat terjadi pula bila perendaman dilakukan sampai 2 bulan. Bila cairan itu dipaksa untuk digunakan, walet tidak akan terpikat.

Untuk itu perlu takaran yang pas agar ramuan tidak terbuang percuma. Dari pengalaman cairan pemikat sebanyak 5 liter cukup untuk dioleskan pada rumah walet berukuran 10 m x 20 m.

Pemakaian sarang utuh untuk bahan campuran memang mahal. Untuk itu gunakanlah sarang remukan yang harganya Rp.1 juta - Rp.1,5 juta/kg. Rumput laut dapat dibeli di pasar tradisional. Harganya cukup murah sekitar Rp. 60.000 - Rp. 80.000/kg.



Pemasangan Tweeter Yang Tepat

Tata Suara dalam rumah walet berpengaruh terhadap suksesnya merumahkan walet. Meskipun walet termasuk hewan liar tetapi burung walet dapat dipanggil dengan suara hasil rekaman ke rumah walet yang masih kosong sekalipun.

Tingkat keberhasilan pemanggilan walet ditentukan oleh jenis suara yang di gunakan dan kualitas suara rekaman.

Burung walet akan cepat merespon terutama suara rekaman walet akan kawin atau berahi. Untuk suara luar lamanya pemanggilan dapat dilakukan antara jam 5:30 pagi sampai jam 19:00 malam, sedangkan suara dalam rumah walet harus dihidupkan 24 jam nonstop.

Cara pemanggilan yang kedua yang banyak diterapkan peternak walet yaitu suara luar dihidupkan dari jam 5:30 pagi sampai jam 11:00 siang, dilanjutkan jam 15:00 sore sampai 19:00 malam.

Posisi tweeter yang dipasang disudut akan mempercepat walet menginap terutama untuk rumah walet baru, hal ini disebabkan walet yang datang dan bermain kerumah walet baru kebanyakan walet muda.

Walet muda sangat menyukai posisi sudut dan agak terlindung. Untuk mensiasati agar sarang yang dihasilkan berbentuk utuh sebaiknya tiap sudut ditambahkan papan penyudut dengan lebar berkisar 10 cm.

Untuk hasil terbaik dan suara yang dihasilkan tweeter merata di setiap ruangan penggunaan kabel harus diperhatikan betul, kabel penghubung dapat digunakan kabel untuk telepon yang berkualitas dengan ukuran kawat 0.6 mm maupun kabel serabut. Yang terpenting memiliki ukuran diatas 0.5 mm.

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah arah hadap tweeter, hindari pemasangan tweeter saling berhadapan 90°. Posisi demikian membuat suara yang dihasilkan bertabrakan sehingga membuat walet binggung mencari sumber suara. Sebaiknya posisi tweeter dihadapkan ke arah pintu masuk setiap ruangan dan pintu masuk antar lantai.






Hama Burung Walet

Kecoa, Kehadiran binatang yang satu ini sangat merugikan peternak burung walet. Kecoa doyan memakan sarang walet, sehingga sarang menjadi berlubang. Akibatnya populasi walet dalam gedung sulit berkembang. Kondisi dalam gedung yang lembab dan bau turut mendukung perkembangbiakan kecoa.

Kecoa juga bisa hadir di rumah walet baru akibat pemakaian kotoran walet yang memang sudah ada hama kecoanya.

Untuk mengatasinya dapat digunakan racun kecoa yang tersedia dalam bentuk serbuk baik yang diumpan maupun yang disemprot ke sarang kecoa. Namun dalam pemakaian jenis semprot harus diperhatikan khusus untuk sirip jangan disemprot terlalu basah, karena ruang yang lembab bisa menyebabkan sirip lama mengering dan hal ini tentu harus dihindari.


Tikus, Predator yang satu ini juga tidak kalah efeknya dalam hal merugikan peternak walet. Tikus juga doyan menyerang dan memangsa anakan walet dan walet muda yang belum bisa terbang. Yang lebih parah lagi tikus sering menimbulkan suara gaduh yang membuat takut burung walet.

Untuk mengatasinya, secara konvensional bisa menggunakan racun tikus yang diltaburi keumpan. Namun salah satu cara yang cukup efektif adalah dengan membuat parit mengelilingi rumah walet.


Burung Hantu & Kelelawar, Hama yang satu ini banyak menggangu rumah walet yang berada di daerah yang memiliki hutan lebat dan pepohonan yang tinggi. Bila burung hantu bisa masuk kedalam rumah walet, selain membuat takut walet juga bisa menyerang walet.

Untuk mengatasinya, lubang masuk bisa diperkecil ukuranya sehingga burung hantu yang bertubuh cukup besar ini tidak bisa masuk lagi. Satu solusi lagi yang tidak sulit untuk diterapkan dan sangat efektif adalah dengan memasang lampu sorot dilubang masuk. Supaya tidak merepotkan hidup dan matinya lampu bisa dipasang timer, yang untuk saat ini sangat banyak dijual dipasaran baik yang digital maupun manual.


Tokek, Walaupun binatang yang satu ini lagi diburu yang katanya enzimnya bisa dibuat obat untuk penyakit HIV. namun kehadiranya di rumah walet menjadi masalah serius. binatang ini selain memakan serangga-serangga dalam rumah walet juga memangsa anakan walet dan telur walet. Tokek bisa masuk kerumah walet lewat lubang masuk, ventilasi udara maupun lewat celah dinding.

Untuk mengatasinya tutup lubang ventilasi dengan kawat kasa dan untuk lubang masuk dipasang bingkai anti Tokek. Bingkai anti tokek bisa kita buat sendiri dengan bahan dari atap seng yang ukurannya bisa disesuaikan dengan lubang masuk.



Aerator Penambah Kelembaban

Kelembaban rumah walet masih menjadi problem yang cukup serius dan tidak mudah diatasi, apalagi untuk daerah tropis yang bersuhu panas.

Panasnya suhu ruang membuat banyak peternak walet menambah lubang udara / ventilasi pada dinding rumah walet. Namun hal demikian tidak menyelesaikan masalah bahkan terkadang menambah masalah baru.

Akibat penambahan lubang ventilasi pada dinding, memang volume udara mengalir lebih besar dan suhu yang diharapkan turun memang tercapai namun juga berujung turunnya kelembaban udara.

Berbagai upayapun dilakukan untuk menciptakan kelembaban, ada peternak yang memasang kipas angin yang di hembuskan ke bak/baskom penampungan air ataupun memasang mesin kabut.

Tetapi kali ini kami ingin mensharingkan salah satu tip sederhana mengatasi kelembaban yaitu dengan alat Aerator. Dengan alat sederhana ini biaya yang dikeluarkan lebih irit dan mudah diterapkan tetapi hasilnya cukup mengembirakan.

Aerator adalah alat penghasil gelembung udara yang biasa dipasang pada aquarium para hobies ikan hias untuk menambah volume oksigen pada aquarium

Dengan alat ini hasilnya cukup lumayan, kelembaban bisa naik antara 10 - 15%, tergantung berapa banyak pipa penghasil gelembung yang dipasang dan kapasitas/kekuatan mesin aerator yang terpasang.

Dipasaran tersedia berbagai ukuran, model dan kapasitas. Dalam pemasangan tiap ujung pipa harus dipasang 1 buah batu aerasi sebelum dimasukkan dalam bak air/baskom, agar gelembung udara yang dihasilkan halus dan penguapan lebih sempurna.
Semoga bermanfaat.

Senin, 13 Juni 2011

contoh proposal sapi potong untuk bupati pasaman saiyo

PROPOSAL USAHA


PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PETERNAKAN
BUDI DAYA SAPI POTONG






Diajukan Kepada
BUPATI PASAMAN










LIBERTI MANDIRI JORONG II KOTO PANJANG
KENAGARIAN LANSEK KADOK
KECAMATAN RAO SELATAN
KAB. PASAMAN
PANITIA PELAKSANA USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG
KELOMPOK LIBERTI MANDIRI
KOTO PANJANG

Nomor      : 001/peternakan/11
Lampiran  : -
Perihal      :
Kepada :
Yth Bapak Bupati Pasaman / cq
Dinas Peternakan kab. Pasaman
Di
Lubuk Sikaping            

Dengan hormat,
Bersama ini kami do’a kan semoga Bapak dalam  keadaan sehat  wal’afiat dan sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dalam rangka menunjang sarana pendirian kelompok Peternakan yang Alhamdulillah telah didirikan di Jorong II Koto Panjang namun kelompok kami tekendala oleh dana,maka dengan ini kami sampaikan permohonan bantuan dana untuk membiayai usaha tersebut.

Sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak bersama ini kami lampirkan :
1. Profil kelompok Liberti Mandiri
2. Biodata ketua kelompok Liberti Mandiri
3. Gambar kandang sapi potong yang telah selesai dibangun
4. Gambar hijauan yang ditanam dan yang tumbuh secara alami dilokasi
5. Denah lokasi
Demikian permohonan ini kami sampaikan kepada Bapak,semoga dapat dikabulkan,terima kasih.

          Ketua                                                                                                  Sekretaris



       H e n d r a                                                                                Yosi Puspita Sari, S.Pd

Turut mengetahui :
Ninik mamak setempat                  Jorong setempat                       Tenaga Penyuluh setempat



Marison,St.adel                                  Lisman                                            Gusmayesi

Wali Nagari Lansek Kadok          Camat Rao Selatan                        Kabag Peternakan Pasaman



Iskandar,AS                                     Darlius. SH                                             Ir. Mairita  
                                               Nip.196308151986021003                              Nip.410012059 

DAFTAR ISI


Cover.................................................................................................................. hal 1
Lembar pengesahan………………………………………………………...    hal 2
Daftar Isi ............................................................................................................ hal 3
Resume Proposal ............................................................................................... hal 5
Bab I Latar Belakang........................................................................................ hal 6
1.1 Deskripsi Dan Pengembangan Usaha ................................................... hal 6
1.2 Kebijakan Usaha Agribisnis................................................................... hal 7
Bab II Relevansi Usaha...................................................................................... hal 9
2.1 Mengapa Usaha Dibutuhkan................................................................. hal 9
2.2 Kendala/Masalah  Yang Harus Dipecahkan.......................................... hal 9
Bab III Tujuan Dari Usaha............................................................................. hal 10
3.1 Tujuan Sosial yang Akan Dicapai........................................................ hal 10
3.2 Manfaat Utama ................................................................................... hal 10
3.3 Indikator Keberhasilan........................................................................ hal 10
Bab IV Aktivitas kegiatan Usaha.................................................................... hal 12
4.1 Pengembangan Yang Telah Terlaksana............................................... hal 12
4.2. Rencana Anggaran Biaya (RAB......................................................... hal 13
Bab V Stakeholder........................................................................................... hal 17
5.1 Yang Menerima Manfaat. ................................................................... hal 17
5.2 Stakeholder Lain.................................................................................. hal 17
5.3 Yang Memiliki Usaha (Kepemilikan).................................................. hal 17
5.4Yang Mengelola Dan Mengontrol Usaha............................................. hal 17
5.5 Kepada Siapa Dipertanggungjawabkan............................................... hal 17
Bab VI Perijinan yang Dibutuhkan............................................................... hal 18
6.1. Struktur Badan Usaha ....................................................................... hal 18
6.2. Kebutuhan Perijinan lainnya.............................................................. hal 18
Bab VII Kepengurusan................................................................................... hal 19
7.1. Nama – Nama Pengurus LM3 dan Tugas.......................................... hal 19
7.2. Nama – Nama Karyawan LM3 dan Tugas......................................... hal 20
Bab VIII Manajemen dan Aspek Teknis....................................................... hal 21
8.1. Penggemukan Sapi Potong................................................................. hal 21
8.2. Sapi Bakalan....................................................................................... hal 21
8.3. Sapi Pembibitan.................................................................................. hal 22
8.4. Sistem Pemeliharaan dan Jangka Waktu............................................ hal 22
8.5. Teknologi Mikroba Ramah Lingkungan............................................. hal 22
8.6. Usaha Pengolahan Limbah Peternakan.............................................. hal 22
Bab IX  Jaringan dan Pasar............................................................................ hal 23
9.1. Analisis SWOT................................................................................... hal 23
Bab X Pengembangan ke Depan.................................................................... hal 24
10.1. Analisis Posisi................................................................................... hal 24
10.2. Rencana Jangka Panjang.................................................................. hal 24
10.3. Laporan Audit Sosial........................................................................ hal 25
Lampiran I profil kelompok Liberti Mandiri...................................................... hal 26
Lampiran II Biodata ketua kelompok…………………………………………..hal 28
Lampiran III Gambar kandang yang telah selesai dibangun ............................. hal 29
Lampiran IV Gambar hijauan pakan ternak (Rumput Gajah/King Grass)……..hal 30
Lampiran V Denah lokasi ……………………………..……………………….hal 31













 


Pengembangan agribisnis Peternakan Budidaya sapi potong kelompok Liberti Mandiri Koto Panjang
1.      Judul Kegiatan   :     Pengembangan Agribisnis Peternakan Sapi potong
  1. Jenis Kegiatan    : a. Penggemukan sapi bibit menjadi sapi siap potong
     b. Instalasi pengolahan kotoran menjadi pupuk Organic
3.      Lokasi                : - Jorong II Koto Panjang,Kenagarian Lansek Kadok,Kecamatan Rao Selatan Kabupaten Pasaman
4.      Nama Lembaga   :  Liberti Mandiri
  1. Biaya      Kegiatan : Rp.60.142.500,-(enam puluh juta sratus empat puluh dua ribu lima ratus rupiah).












BAB I
LATAR BELAKANG
1.1. DESKRIPSI  DAN  PENGEMBANGAN  USAHA
a.      Gambaran Umum Wilayah
Jorong II Koto Panjang merupakan lahan yang sangat strategis untuk dijadikan sebagai lokasi usaha Peternakan khususnya sapi potong,hal ini didukung oleh letak Geografisnya yang berada dikaki bukit dan mempunyai suhu rata-rata antara 24 - 270 c yang merupakan suhu yang hampir ideal untuk Peternakan sapi potong.
Ketersediaan lahan yang cukup luas dan pakan yang memadai,potensi ketersediaan pakan ternak dilokasi tersebut yakni terdapatnya lahan-lahan yang secara alami ditumbuhi oleh hijauan pakan trnak unggul (Rumput Gajah/King Grass) maka potensi ini akan lebih dapat dikembangkan lagi.
Disamping itu disekitar lokasi juga terdapat sebuah sungai kecil yang airnya bersumber dari bukit Koto Panjang dan disepanjang pinggiran sungai tersebut ditumbuhi Rumput Gajah,air dari sungai tersebut juga dapat digunakan sebagai air minum ternak dan untuk membersihkan kandang.
b.      Ide Usaha
Berangkat dari krisis global yang berdampak kepada perekonomian Indonesia terpuruk. Turunnya harga jual produk hasil pertanian, perkebunan, anjloknya harga sawit, karet, dan tidak beroperasinya pabrik-pabrik yang berakhir dengan Pemutusan Hubungan Kontrak (PHK) dari beberapa perusahaan terhadap karyawan dan buruh-buruh pabrik. Sulitnya mendapatkan pupuk serta tingginya harga pembelian pupuk oleh petani.
Dampak yang ditimbulkan dari hal di atas sangat mempengaruhi terhadap penghasilan dan pendapatan para petani. Sehingga menimbulkan permasalahan social dimasyarakat yang salah satu akibat terganggunya Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah. Harga pembelian bahan-bahan  konsumsi/makan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meningkat mahal serta ketidakmampuan orang tua siswa untuk membayar uang bulanan sekolah atau SPP.

c.       Gagasan Usaha
Berangkat dari keterpurukan ekonomi masyarakat Indonesia pada umumnya dan msyarakat Rao Selatan khususnya,maka muncullah sebuah gagasan dari beberapa orang yang dihimpun dalam suatu kelompok yang diberi nama Liberti Mandiri untuk membangun sebuah usaha Agribisnis,yang mana usaha ini bertujuan untuk memberikan contoh kepada masyarakat sekitar Rao Selatan bahwa Berwirausaha adalah suatu pekerjaan yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi.

1.2. Kebijakan Usaha Agribisnis

a.      Kebijakan kelompok liberti mandiri
Liberti Mandiri merupakan sebuah kelompok usaha di bidang Agribisnis yang akan eksis di lingkungan masyarakat. Lembaga ini dituntut untuk dapat terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan terutama bagi Masyarakat yang ada di lingkungan Rao Selatan.
Potensi ketersediaan bahan pakan untuk penggemukan sapi cukup besar. Karena di daerah ini terbentamg areal persawahan dan perkebunan yang cukup luas. Sehingga limbah pertanian seperti jerami padi melimpah. Ketersediaan dedak juga cukup banyak. Karena ada penggilingan padi disekitar lokasi.
Dengan budidaya sapi potong ini masyarakat pada umumnya dan anggota kelompok khususnya dapat belajar dan menambah pegetahuannya tentang budidaya tidak hanya secara teori namun juga secara praktek dilapangan. Karena salah satu Program materi penyaluran bakat dan minat anggota adalah tentang Budidaya sapi potong.



b.      Kebijakan Pemerintah
Dalam rangka memenuhi kebutuhan sandang pangan Pemerintah melalui Menteri Pertanian untuk Tahun 2009 dan seterusnya menjdikan Indonesia sebagai Negara pengexpor beras dan daging. Dan khusus Propinsi Sumatera Barat,pada awal masa jabatannya Gubernur Sumatera Barat juga mencanangkan suatu Program yaitu “One Man One Catle” (satu petani satu sapi) Melalui Program ini kelompok Liberti Mandiri membaca peluang yang sangat bagus untuk melakukan pengembangan usaha Agribisinis yaitu budidaya sapi potong. 
c.       Gambaran lokasi Peternakan sapi potong Liberti Mandiri
Saat ini kelompok Liberti Mandiri memiliki lahan Produktif seluas 1 (Satu) hektar yang merupakan kepemilikan ketua kelompok itu sendiri,dalam lahan tersebut telah di dirikan sebuah kandang permanen (beton) dengan kapasitas 5 (lima) ekor sapi.

BAB II
RELEVANSI USAHA

2.1. Mengapa Usaha Dibutuhkan?
Secara Geografis Indonesia merupakan negara Agraris, tanah yang subur dengan hamparannya yang hijau. Namun Realita yang terjadi sampai sekarang Indonesia masih kekurangan kebutuhan pangan, baik dari segi Beras, Jagung, Peternakan, dan lain-lain.  Salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan kebutuhan Saat ini Pemerintah melalui Menteri Pertanian telah punya target untuk Tahun 2009 dan seterusnya Indonesia sebagai Negara pengexpor beras dan daging. Program ini telah berjalan sejak tahun 2006 dengan berbagai bentuk pembinaan secara perorangan dan perkelompok petani dan peternak Pemerintah memberikan pembinaan, penyuluhan dan memberikan bantuan dalam bentuk bibit dan uang sebagai modal usaha.
 Menyikapi hal diatas sangatlah dibutuhkan Program pengembangan Budidaya sapi yang dilaksanakan kelompok kami. Baik dari segi iklim, tempat dan pemasarannya sudah dijamin oleh Pemerintah. Salah satu kebutuhan dari Umat Islam yang setiap tahunnya membutuhkan sapi yakni pada hari raya qurban (Idul Adha) yang sampai saat sekarang pengurus mesjid sangat susah dan kewalahan untuk mencari sapi qurban.
2.2. Kendala/Masalah  Yang Harus Dipecahkan
Untuk  mewujudkan pembudidayaan sapi ini kami terkendala dengan pembiayaan/modal. Untuk itu kami sangat butuh bantuan dari donatur/investor dalam hal permodalan.


BAB III
TUJUAN DARI USAHA
3.1. Tujuan Sosial yang Akan Dicapai
a.       Menjadi basis Peternakan budidaya sapi potong di daerah setempat
b.      Melalui budidaya sapi potong ini terpenuhinya kebutuhan Masyarakat banyak.
c.       Terbantunya Masyarakat dalam Pembelian daging sapi dengan harga yang relatif lebih murah.
d.      Menciptakan lapangan pekerjaan bagi Masyarakat khususnya anggota kelompok.
3.2. Manfaat Utama
a.       Dengan adanya budidaya sapi potong anggota kelompok mendapatkan kesempatan belajar lebih banyak tentang usaha Agribisnis terutama Peternakan sapi potong.
b.      Terpenuhinya kebutuhan Masyarakat sekitar dan anggota baik dalam segi Ekonomi maupun lapangan pekerjaan.
3.3. Indikator Keberhasilan
a.      Iklim
Secara Geografis iklim Koto Panjang adalah iklim tropis yang terletak diantara  kaki bukit dengan bentangan sungai nyiur. Tanah yang subur dan cukup dengan kebutuhan akan air
b.      Aktifitas Masyarakat Setempat
Aktifitas perekonomian Masyakat di sekitar lokasi pada umumnya berusaha di bidang Agribisnis (bertani, berternak dan berkebun) sehingga rencana pengembangan sapi sangat direspon oleh Masyarakat. Mudah-mudahan dengan adanya Program pengembangan sapi potong ini dapat menjadi contoh bagi Masyarakat sekitar khususya Masyarakat yang bergerak dalam Budidaya sapi.
c.       Program kelompok
Salah satu Program yang akan diadakan kelompok adalah mengundang Tim Penyuluh pada waktu tertentu untuk memberikan penyuluhan kepada Masyarakat tentang Agribisnis terutama sapi potong  guna menambah pengetahuan terutama anggota kelompok.


d.      Kebutuhan Pasar
Terhadap kebutuhan daging yang terus meningkat. Menurut data dari Dinas Peternakan Propinsi dan rumah potong hewan, setiap bulannya Sumatera Barat kekurangan sapi untuk konsumsi  + 100 ekor  perbulan. Untuk memenuhi kebutuhan, rumah potong hewan mendatangkan sapi dari luar Sumatea Barat. Bahkan Indonesia sendiri mendatangkan sapi dari luar negeri rata-rata + 10.000 ekor perbulan.
e.       Tenaga Pengelola
Untuk budidaya sapi potong ini dikelola oleh beberapa orang anggota kelompok atas bimbingan tim Penyuluh setempat.
f.       Pakan Ternak.
Masyarakat sekitar  yang mayoritas mata pencariannya sebagai petani dan peternak. Dengan bertani sangatlah banyak rumput yang tumbuh disektar persawahan serta banyaknya jerami padi ketika petani memanen padi dan selain itu disekitar lokasi juga terdapat sungai yang pinggiran dari sungai tersebut ditumbuhi rumput gajah (king grass) yang merupakan hijauan terbaik terutama untuk ternak ruminansia.
Selain itu disekitar lokasi juga terdapat penggilingan padi yang hasil sampingannya adalah dedak (katul),perkebunan jagung milik petani setempat,dan tidak jauh dari lokasi juga terdapat pabrik tahu yang mana ampas dari pengolahan tahu tersebut dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan konsentrat (makanan penguat).



BAB IV
AKTIVITAS KEGIATAN USAHA
4.1. Pengembangan Yang Telah Terlaksana
Melalui program Menteri Pertanian menjadikan Indonesia sebagai Swasembada daging,dan Program “One Man One Catle” (satu petani satu sapi) oleh Gubernur Sumatera Barat,sebagai apresiasi,dukungan dan respon yang Positif dari Masyarakat akan Program tersebut maka kami mulai mendirikan kelompok ini. Langkah awal yang telah kami jalankan yaitu :
    1. Mendirikan suatu  kelompok dibidang Agribisnis
    2. Menyediakan lahan sebagai tempat usaha
    3. Mendirikan kandang Permanen (beton) dengan kapasitas 5 (Lima) ekor untuk tahap awal
B.     Kegiatan Pra Operasional
No
Jenis Kegiatan
Jadwal Pelaksanaan 2011
Biaya (Rp.)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1.
Suvei Pasar
x











-
2.
Menyusun Rencana

x










-
3.
Alat Penunjang




x







-
Jumlah
-
C.    Kegiatan Operasional
No
Rincian kegiatan
Waktu Pelaksanaan 2010
Des 2010
Jan 2011
Feb 2011
Mar 2011
April 2011
1
Pembuatan kandang
x




2
Penanaman Rumput
x




3
Upah tenaga kerja
x




4
Pengadaan Sapi





5
Obat2an ternak dan peralatan





6
Pelayaanan IB





7
Biaya umum  usaha:


1.      Listrik






2.      Air






3.      ATK






4.      Laporan






4.2. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
                 Kebutuhan biaya untuk pengembangan ussaha ini cukup besar. Sedikitnya kami membutuhkan dana Rp. 60.142.500,-(enam  puluh  juta seratus empat puluh dua ribu lima ratus rupiah) . Adapun rinciannya bisa di lihat pada Tabel

RENCANA ANGGARAN BIAYA
No
Uraian
Jml
Satuan
Harga Satuan
Biaya / 5 bulan
Total Rp
1
Pembuatan Kandang
1
Paket


5.000.000,-
2
Bakalan Sapi
5
Ekor
7.000.000,-

35.000.000,-
3
Pembuatan Ransum
1
Paket


4.500.000,-
4
Peralatan kandang
1
Paket


5.250.000.-
5
Penghijauan
1
Paket


1.000.000,-
6
Kesehatan
1
Paket


750.000,-
7
Instalasi Listrik :






-Instalasi
1
Paket


2.500.000,-

-Kabel Twistik
500
Meter
5000

2.500.000,-
8
Instalasi air :






-    Pembuatan sumur
1
Paket
1.000.000,-

1.000.000,-

-    Mesin Air
1

500.000,-

500.000,-

-    Pipa&Selang
50
Meter
1.000.000,-

1.000.000,-


-    Perlengkapan lainnya
1
Paket
     500.000,-

500.000,-

9
Pengolahan pupuk kandang :






-   Bangunan pengolahan pupuk
1
Unit


1.000.000,-

Kantong Pupuk
100
Kantong
1.000,-

       100.000,-

Pupuk urea
25
Kg
1.700,-

42.500,-
10
Peralatan Kantor
1
Paket


1.000.000,-
J u m l a h
60.142.500,-

ANALISIS USAHA
A.Input atau biaya tetap.
1. sewa tanah seluas 1 (satu) hektar per 5 bulan                                         Rp.500.000
2. Kandang
- biaya pembuatan = Rp.5.000.000
- NA (nilai akhir)  = Rp.5.000.000
- NS (nilai sisa)     = Rp.5%
                              = 5 X 5.000.000
                                          100
                              = Rp.250.000
-          JUE (jangka usia ekonomis) = 10 tahun
-           Penyusutan           = Rp.5.000.000   250.000
                                                  10
                              = Rp.475.000 / tahun
                              = Rp.475.000 : 12 =39583.3 X 5 =197.916                Rp.200.000
3.      Sumur,mesin air, bak penampungan dan peralatan
-          NA                         = Rp.3.000.000
-          NS                          = Rp.5 %
                               = Rp.5 X 3.000.000
                                             100
-          JUE                        = 10 tahun
-           Penyusutan            = Rp.3000.000 – 150.000
                                                    10
                               = Rp.285.000 / tahun
                               = Rp.285.000 : 12 = 23.750 x 5 =                                  Rp.118.750
4. listrik Rp.30.000 / bulan x 5                                                                                 Rp. 150.000
5. transportasi Rp.50.000 / bulan x 5                                                                       Rp.250.000  +
  Jadi total biaya tetap                                                                                            Rp.1.218.750
B. Input atau biaya variable
1. Bibit 5 (lima) ekor @ Rp.7.000.000 = Rp.35.000.000
2. Peralatan kandang                              = Rp.1.000.000
3. peralatan pengolahan pupuk kandang = Rp.1.000.000
4. peralatan kantor                                   =Rp.    500.000
5. pembuatan ransum (konsentrat)          = Rp.3.750.000
6. penghijauan pakan                               = Rp.  500.000
7.kesehatan ternak                                   = Rp.   750.000
Total biaya variable                                                                                              Rp.42.500.000

Jadi total Input = biaya tetap + biaya variable
                         = 1.218.750 + 42.500.000 =                                                         Rp.43.718.750
C. Output utama
    Penjualan 5  (lima) ekor sapi  dengan bobot badan awal rata-rata 250 kg / ekor,pertambahan bobot badan rata-rata 1 kg / ekor / hari,sehingga bobot badan akhir rata-rata 400 kg / ekor dengan harga jual berat hidup Rp.25.000 / kg.
Jadi 5 x 400 x 25.000 =                                                                                            Rp.50.000.750
D. Output sampingan
    Penjualan pupuk kandang setelah diolah menjadi kompos Rp.5000 / karung diperkirakan sebanyak 150 karung selama 5 bulan (1 karung / hari)
Jadi 150 kg x Rp.5000 =                                                                                               Rp.750.000
Jadi total output = output utama + output sampingan
                           = 50.000.750 + 750.000 =                                                              Rp.50.750.750


E. Pendapatan pengelola
Output total – Input total
Rp.50.750.750 -43.718.750 = 7.032.000
O / I Ratio = Output total : Input total
                   = 50.750.750 : 43.718.750                                                                         Rp.1,16
Jadi dengan modal Rp.1 diperoleh keuntungan Rp.0,16
Berarti usaha penggemukan sapi potong ini layak untuk diusahakan.



















BAB  V
STAKEHOLDER

5.1. Yang Menerima Manfaat
Yang menerima manfaat dari budidaya sapi potong  ini adalah :
1.      Masyarakat sekitar
2.      Anggota kelompok Liberti Mandiri itu sendiri

5.2. Stakeholder Lain
Stakeholder  lain yang terkait dengan budidaya sapi ini adalah :
1.       Tokoh Masyarakat setempat
2.      Dinas Peternakan Kabupaten dan Dinas Peternakan Propinsi


5.3. Yang Memiliki Usaha (Kepemilikan)
Yang memiliki usaha ini adalah kelompok Liberti Mandiri Koto Panjang.

5.4. Yang Mengelola Dan Mengontrol Usaha
1.      Yang mengelola budidaya sapi potong ini adalah anggota kelompok Liberti Mandiri
2.      Yang mengontrol usaha budidaya sapi ini adalah tim Penyuluh setempat.

5.5. Kepada Siapa Dipertanggungjawabkan
Dalam pelaksanaan usaha budidaya ini Liberti Mandiri akan bertanggungjawab kepada :
1.      Masyarakat
2.      Dinas Peternakan Kabupaten Pasaman.
3.      Semua  lembaga yang ada di Kecamatan Rao Selatan
4.      Bupati Pasaman
5.      Stakeholder lainnya





BAB VI
PERIZINAN YANG DIBUTUHKAN
6.1. Struktur Badan Usaha
Kelompok liberti mandiri koto panjang



 



















Keterangan :
                        Garis Instruktif
                        Garis Koordinatif




BAB VII
KEPENGURUSAN
7.1. Nama – Nama Pengurus Liberti Mandiri dan Tugas

NO
NAMA
JABATAN
TUGAS
1.
Hendra
Ketua
-    Monitoring dan Evaluasi
-    Mengkoordinir kegiatan
-    Menyusun Perencanaan
2.
Yosi puspita sari.Spd
Sekretaris
-    Mencatat dan membuat surat masuk dan surat keluar
-    Menginventarisir semua inventaris kekayaan lembaga
-    Membuat Data base kelembagaan
-    Membuat laporan bulanan
3.
Ira Wati
Bendahara
-   Mencatat semua transaksi keuangan
-   Menyusun Rencana Anggaran Belanja (RAB)
4.
Sudirman
Bid. Produksi
-   Menyiapkan kandang
-   Menyiapkan Pakan Ternak
-   Mencatat angka kelahiran sapi
-   Penyusunan rencana hasil dari target usaha
-   Meningkatkan kualitas hasil ternak.
5.
Mawardi
Bid. Pemasaran
-   Menjalin relasi bisnis
-   Memasarkan hasil usaha
-   Mencatat dan mendata hasil dari penjualan sapi
-    
6.
Tasri
Bid. Kesehatan Hewan
-   Mengawsi kesehatan hewan
-   Mengawasi kebersihan dilingkungan kandang
-   Melakukan kerjasama dengan dinas peternakan dalam penyuntikan IB
7.
Sudirman
Pembantu Umum
-   Membantu secara umum kebutuhan dan operasional kelembagaan




7.2. Nama – Nama Karyawan liberti mandiri dan Tugas

NO
NAMA
JABATAN
TUGAS
1.
Marison St.Adel
Manager
-    Melaksanakan Program Kerja kelembagaan
-    Bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan usaha
-    Membuat laporan bulanan perkembangan usaha
2.
- Ricer
- Gusri 

Petugas kandang
-    Memberi makan & minum sapi
-    Menanam, menyabit, dan memeliara pakan ternak
-    Membersihkan kandang




BAB VIII
MANAJEMEN DAN ASPEK TEKNIS
8.1. Penggemukan Sapi Potong
Usaha penggemukan sapi potong tidak membutuhkan pemeliharaan yang relatif tidak sulit. Berbeda dengan usaha sapi perah, yang pemeliharaannya harus sangat intensif. Modalnya pun tidak terlalu besar, karena besarnya modal tergantung banyaknya sapi bakalan yang akan digemukkan. Disamping itu singkatnya pemeliharaan yaitu 4 - 5 bulan juga menjadi factor penunjang keberhasilan usaha ini. Dengan sistem penggemukan yang dipadukan dengan usaha pertanian, misalnya penanaman jagung dan sayur-sayuran. Maka usaha ini menjadi usaha tani terpadu tanpa limbah.
Penggemukan pun bisa dipacu dengan Teknologi Mikroba yang relatif ramah lingkukangan yang telah dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Misalnya dengan penambahan Probiotik Bioplus ke dalam Rumen serta mencampurkannya dengan jerami sebagai pakannya.
Upaya ini akan mampu meningkatkan kemampuan pertambahan berat badan hariannya yang stabil. Karena Probiotik tersebut berfungsi meningkatkan Metabolisme tubuh  melalui perbaikan kondisi Mikroba di dalam Rumen sapi.
8.2. Sapi Bakalan
Sapi yang akan digemukkan biasanya disebut sebagai sapi bakalan. Sapi ini biasanya berusia 6 – 12 bulan dan memiliki bobot hidup sekitar 200 – 300 kg. Kondisi nya sehat bertulang rangka agak besar.
Biasanya yang digunakan sebagai sapi bakalan adalah ternak yang berkelamin jantan. Jenisnya bermacam-macam, ada jenis bakalan import dan lokal. Sapi bakalan yang berasal dari galur impor ini biasanya pertumbuhannya lebih baik disbanding sapi local. Pertumbuhan bobot badan perharinya berkisar 1 – 1,5 kg/ekor/hari. Karena kemampuan mengkonsumsi konsentratnya lebih baik, demikian pula dengan metabolisme tubuhnya. Sehingga dalam waktu singkat mampu mencapai bobot badan yang ideal 400 – 500 kg.


8.3. Sapi Pembibitan
Dalam rangka menunjang program pemerintah untuk Swasembada daging tahun 2009 dan seterusnya. Kelompok liberti mandiri juga akan ikut berperan mengembangkan pembibitan sapi dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging sapi. Melalui pembibitan ini sebagai alternative mengurangi kelangkaan sapi di Indonesia pada umumnya masyarakat Sumatera Barat khususnya.

8.4. Sistem Pemeliharaan dan Jangka Waktu
Sapi-sapi bakalan dipelihara selama 5 bulan pada kandang individu. Sistem pemeliharaan yang intensif, dengan pemberian pakan hijauan dan konsentrat
8.5. Teknologi Mikroba Ramah Lingkungan
Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor mengembangkan sejenis mikroba yang harus diberikan kepada sapi sebelum dilakukan program penggemukan. Tujuan dari pemberian mikroba tambahan ini adalah untuk memperbaiki kondisi pencernaan sapi, khususnya pada perut rumennya. Agar daya cerna sapi terhadap hijauan/ serat kasar menjadi lebih baik.
8.6. Usaha Pengolahan Limbah Peternakan
Kotoran ternak sapi potong jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan. Bahkan kegiatan penanganannya bisa dijadikan sebagai sebuah bentuk usaha pengolahan limbah peternakan seperti biogas dan produksi pupuk organik.







BAB IX
JARINGAN DAN PASAR
9.1. Analisis SWOT
Strength
-  Kesepakatan dari komunitas kelompok  dan masyarakat sekitar
-  Lahan :
1.      Tanah seluas 1 hektar (Lokasi jorong II koto panjang)
2.      Lahan kosong disekitar lokasi yang bisa disewa dengan harga murah
-  Iklim dan tanah yang subur
-  SDM yang memadai
Weakness
-   Modal yang kurang memadai
-   Kesadaran masyarakat untuk        mengelola potensi  sumber daya yang ada

Opportunity
-  Lahan milik sendiri
-  Tersedianya hijauan pakan yang berkualitas
-  Dijangkau alat transportasi
-  Kurangnya persaingan
-  Kurangnya persediaan sapi di Sumatera Barat
Threat
-     


BAB X
PENGEMBANGAN KE DEPAN

10.1. Analisis Posisi
Politik
-  Program Pemerintah swasembada daging  tahun 2014
-  Program pemerintah propinsi “one man one catle” (satu  petani  satu sapi)
-  Kesepekatan  masyarakat sekitar dengan komunitas kelompok
Ekonomi
-    Membantu komunitas kelompok dalam memajukan perekonomian
Social
-  Terpenuhinya kebutuhan masyarakat dalam mengkonsumsi daging
-  Menciptakan lapangan pekerjaan
-  Membantu program pemerintah swasembada daging
Teknologi
-    Pengolahan limbah/kotoran sapi menjadi pupuk
-    Pengolahan limbah/kotoran sapi menjadi bio gas


10.2. Rencana Jangka Panjang
1.      Menjadikan kelompok sebagai pusat percontohan ternak sapi potong berbasis msyarakat
2.      Terbentuknya rumah potong hewan
3.       Pembinaan kelompok baru dibidang agribisnis khususnya peternakan.





10.3. Laporan Audit Sosial
Dalam setiap pelaksanaan kegiatan kami akan membuat laporan dengan system urutan sebagai berikut :
1.      Laporan Bulanan diberikan kepada menejer kelompok
2.      Laporan per-periode akan diberikan kepada dinas peternakan kabupaten pasaman.












keterangan :
                        Laporan Bulanan
Laporan Tri wulan

Demikianlah Proposal Usaha ini kami buat atas perhatian dan pertimbangan bapak kami ucapkan terimakasih



Lampiran I
PROFILE
KELOMPOK LIBERTI MANDIRI

A.    Sejarah Ringkas kelompok liberti mandiri
Pendidikan merupakan barometer  penting untuk mengukur kemajuan suatu bangsa, dampak dari pendidikan yang baik memiliki implikasi luas terhadap  berbagai sector, baik agama, ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan,

B.     Visi dan Misi

Visi :
Menjadi lembaga yang sukses dan dapat dicontoh oleh masyarakat banyak
Misi :
Membina peserta kelompok agar menjadi orang yang Kopeten di bidang agribisnis khususnya peternakan dan mampu memenuhi kebutuhan hidup juga mengurangi pengangguran

C.    Tujuan
1.      Mendidik peserta kelompok agar manjadi orang yang mandiri dengan jalan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
2.      Membina peserta kelompok agar menjadi orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) khususnya di bidang peternakan.
3.      Menciptakan wadah untuk tempat saling bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memajukan perekonomian.
4.      Menciptakan manusia yang sadar dan peduli lingkungan dengan cara mengolah limbah menjadi bahan yang produktif.

D.    Susunan Personalia Pengurus kelompok liberti mandiri
Pelindung                : Allah SWT

Penasehat               : Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) TK. II Kab.   Pasaman (Yasri)

Pengurus                  :
      Ketu                          : Hendra
      Sekretaris                   : Yosi Puspita Sari.Spt
 Bendahara                : Ira Wati
Bid. Pendidikan        : Julia Marto
Bid.pendanaan          : Suardi
Bid. Pembangunan    : Fahri
Bid. Produksi            : Sudirman
Bid. Pemasaran         : Mawardi
Bid. Keswan              : Tasri
Pembantu umum       : Sudirman
      Menejer                     : Marison St.Adel
      Karyawan kandang   :  - Gusri
                                           -  Ricer

Lampiran II

Biodata ketua kelompok             
Nama                  : Hendra
Tempat/tgl Lahir : Koto panjang 28 Oktober 1986
Alamat                : jorong II Koto Panjang,kenag.Lansek Kadok,kec.Rao Selatan,Kab.Pasaman    
Agama                : Islam
Pendidikan          :
Ø  SD    : SD 64 Koto Panjang (1993 – 1999)
Ø  SMP : SMP N 3 Rao (1999 – 2002)
Ø  SMA : SMK N 1 Lubuk Sikaping (2004 – 2007)
Ø  PT     : Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang (UNAND 2008)




















Lampiran III
Gambar kandang yang akan dijadikan sebagai tempat pemeliharaan sapi potong
 Difoto dari samping
Difoto dari depan
Lampiran IV
Gambar hijauan pakan ternak (rumput gajah)
    1. Yang tumbuh alami disekitar lokasi (pinggiran sungai nyiur)


b. Yang sengaja ditanam di lokasi

Lampiran V
Denah lokasi Peternakan Liberti Mandiri Koto Panjang